<![CDATA[komara - Moslem]]>Sat, 02 Jan 2016 08:05:54 -0800Weebly<![CDATA[Jelang Puasa, MUI, dan Jorok]]>Wed, 20 Jul 2011 00:29:42 GMThttp://komara.weebly.com/moslem/jelang-puasa-mui-dan-jorokPicture
Fenomena baru di mal-mal elite Ibu Kota adalah mushola eksekutif. Dua mal papan atas Pacific Place (PP) dan Senayan City (Sency) yang berada di jantung kota Jakarta secara khusus mendedikasikan sebuah mushola jenis ini. Meski tak seekslusif di dua plasa mewah itu, Plasa FX juga memberikan tempat beribadah bagi umat Islam ini.

Sebenarnya, mal Plasa Indonesia memulai lebih dulu, meski tak banyak "peminat." Pengelolaannya tidak sebaik di PP. Plasa Senayan idem dito. Di PS lokasinya berada di tempat parkir sehingga kesan eksekutifnya menjadi "hilang." Plasa elite yang lama bertengger dan menjadi favorite di kalangan jetset di Jakarta itu hanya menempatkan mushola sebagai pelengkap dan bukan sebagai fasilitas.

Mal-mal lain semacam Cilandak Town Square (Citos) dan hampir semua square yang berdiri di Jakarta dan kota satelitnya, termasuk Pondok Indah Mal (PIM), Central Park, Mal Taman Anggrek (MTA), serta "ratusan" ITC menempatkan musholanya sebagai tempat "buang hajat."

Shalat dianggap sebagai aktivitas melepaskan hajat, sehingga fasilitasnya dianggap tidak perlu lebih baik dari fasilitas orang "buang hajat." Juga pengelolaannya. Di sebagian mal, fasilitas buang hajat bahkan jauh lebih baik daripada fasilitas "melepas hajat" tadi. Ini bisa kita lihat hampir di semua mal yang diberi brand ITC. Di bilangan elite Senayan, terdapat STC (Senayan Trade Center). STC membangun mushola di tempat yang sumpek di lantai bawah tanah dan lebih tepat dianggap tempat "melepas hajat."

Tren mushola di mal memang seharusnya terjadi. Membangun mushola yang baik dengan manajemen yang rapi adalah sebuah keniscayaan. Ya sebuah keniscayaan karena sejatinya manajemen mal ingin para pengunjungnya tak perlu beranjak ke mana-mana dan menghabiskan uangnya di mal tersebut. Jika pengunjung keluar mal untuk menunaikan shalat dan tidak kembali, ini kerugian. Ditambah lalu lintas Jakarta yang krodit, tempat parkir yang selalu full, keluar mal sama artinya dengan meninggalkan mal untuk selamanya.

Negeri besar ini memang disesaki umat Islam. Setiap muslim memiliki kewajiban shalat lima waktu. Dengan kesadaran kalangan menengah atas muslim beribadah di tengah kesibukannya, mushola di mal adalah jawaban.

Yang menarik dari mushola di mal adalah tempat bersuci dari hadast (thaharoh). Tempat wudhu dan tempat kencing/najis. Di satu sisi pengelola mal ingin mengakomodasi atau menjaring pengunjung kalangan menengah atas yang muslim dengan menyediakan mushola, di sisi lain pengelola mal menerapkan "asas" toilet kering.

Toilet kering acap tidak memedulikan faktor paling urgent dari thaharoh yaitu menghilangkan najis. Ambil contoh mushola di mal Pacific Place, di Kawasan SCBD. Mushola di sini menurut penulis merupakan mushala di mal yang dikelola sangat baik termasuk kondisi fisiknya. Selain ber-AC, karpet yang bagus, pengharum ruangan, penjaga yang santun dan berseragam, juga sistem drainase di tempat wudhunya: perfect. Pengelola bahkan menyediakan self service, free semir sepatu, dan minuman aqua. Perilaku jamaahnya pun: berkelas, tertib, dan educated.

Mushola ini menerapkan toilet kering. Toilet yang tidak menjadikan bersuci dari hadast sebagai ukuran utama. Toilet ini hanya membersihkan air kencing dan abai terhadap kebersihan (baca: kesucian) kelaminnya--asal air kencing yang najis itu. Padahal, ukuran sahnya shalat ditentukan oleh suci tidaknya empat shalat, pakaian, dan anggota tubuh seseorang. Bersuci dari hadast adalah syarat mutlak.

Kondisi ini diperparah oleh perilaku para jamaah yang tidak teredukasi dalam melaksanakan thaharoh. Terutama membersihkan kelamin dari najis dan bukan membersihkan barang (baca:air) najisnya. Akibatnya keabsahan shalat bisa menjadi taruhan.

Mal-mal lain yang musholanya lebih "rendah" dari Pacific Place juga menghadapi masalah yang sama. Bahkan lebih buruk.

Rupanya kondisi ini tidak berjalan sendiri. Hampir semua masjid di Jakarta (terutama yang penulis kunjungi) tidak lebih baik. Masjid Istiqlal misalnya. Sistem penyucian dari najis (thaharoh) justru lebih buruk dari mushola di Pacific Place. Masjid Istiqlal rentan terhadap najis. Para jamaahnya juga rentan menyimpan najis. Perilaku membersihkan najis juga tidak teredukasi dengan baik.

Sejumlah masjid besar seperti At Tin juga tidak lebih bersih (baca: suci). Ini berbeda dengan Masjid Sunda Kelapa yang menyediakan dua jenis toilet: basah dan kering. Toilet kering diantisipasi juga sebagai penyuci alat kelamin dan antisipasi najis dari proses pembersihan barang najis (baca: air seni).

Toilet kering merupakan solusi dari stigma jorok yang menempel di hampir semua masjid dan mushola di Indonesia serta perilaku umatnya. Tetapi solusi itu berhenti pada alatnya. Sistem nilainya tetap dibiarkan berserakan dan tidak diubah. Sistem nilai thaharoh bukan menjadi mahzab utama yang melandasi bangunan peturasan di semua tempat ibadah.

Masjid kecil PP Muhammadiyah adalah contoh kecil yang mengusung sistem nilai thaharoh ini. Masjid Al Ikhlas di kawasan Senayan Residence adalah contoh buruk sistem nilai thaharoh.

Shalat merupakan ibadah paling utama dalam Islam. Perintah shalat bahkan diabadikan dalam peristiwa Isra' Mi'raj. Menjelang puasa, ibadah wajib ini juga sebaiknya menjadi perhatian utama semua pihak, khususnya MUI. Selain menghilangkan kesan dan stigma jorok di lingkungan tempat ibadah, perhatian pada sistem thaharoh ini merupakan kunci pelaksanaan ibadah lainnya.

Daripada MUI mengeluarkan fakta premium haram, yang kontroversial itu, sebaiknya MUI menekuk mukanya ke bawah, merogoh kembali domain fungsi dan tugasnya. Benahi dulu sistem thaharoh di Masjid Istiqlal, bangun stigma bersih dan suci di semua masjid dan mushola, bangun petuasan dan tempat wudhu yang berstandar dan bersertifikat suci. Pekerjaan ini jauh lebih mulia daripada MUI mengharamkan premium, apalagi mengharamkan keberagamaan.

Jika Istiqlal saja masih berpotensi najis, bagaimana MUI bisa memfatwakan prostitusi Dolly adalah haram dan kotor.

Akhirnya kita sambut bulan Ramadhan dengan hati gembira, berbunga-bunga, semoga Allah SWT memberikan keberkahan, kesuksesan, dan kemuliaan bagi kita semua. Amin.

oleh: Habe Arifin
]]>
<![CDATA[Wanita petugas kebersihan (Pemungut sampah)]]>Sun, 13 Feb 2011 09:59:36 GMThttp://komara.weebly.com/moslem/wanita-petugas-kebersihan-pemungut-sampahPicture
Maha Besar Allah, dijadikan-Nya siang berganti dengan malam, semua itu menjadi bukti akan kebesaranNya. Supaya kita sebagai orang-orang yang diberi akal agar mampu berfikir dan meresapi, bahwa tiada Tuhan selain Eengkau. Sungguh tiada sia-sia ya Allah, apa-apa yang telah Engkau ciptakan. Dengan segala kuasa, bila telah terjadi maka terjadilah.

Suara azan subuh berkumadang silih berganti, dari satu mesjid kemesjid yang lain. Menanda sang Fajar telah mulai menampakkan keperkasaan sang surya dalam menyinari. Pertanda pula, bahwa hidup baru segera dimulai.

Berbicara waktu shubuh banyak sekali nasehat-nasehat bijak dari orang tua, yang diperdengarkan ketelinga kita. Instalasi makna-makna yang akan menjadi nilai-nilai kehidupan, untuk benar-benar menghargai waktu. ”Jangan sampai rezekimu dipatok oleh ayam”. Kalimah ini mungkin terucap, dari belahan sumatra hingga ujung timur indonesia. Pesan singkat agar segera bangkit dan menjemput, rezeki-rezeki yang telah Allah persiapkan, dari pintu yang tak diduga-duga.

Persis seperti shubuh jumaat ini, petuah diatas seakan benar-benar terasa dalam diri saya. Bekerja, berusaha, berikhtiar memantaskan diri memperoleh rezeki yang halal, penuh barakah, dengan cara-cara kemampuan kita masing-masing.

Setelah selesai dzikir seusai shalat shubuh berjamaah di Mesjid Matraman. Saya kembali menuju tempat saya tinggal (sementara) dikelurahaan pengangsaan. Saya melewati tempat pembuangan sampah. Disini sepertinya star awal para wakil-wakil Allah pada melakukan aktivitasnya menjaga kebersihan, karena saya melihat ada beberapa mobil angkutan sampah terpakir disini.

Yang membuat saya terkesan adalah saat melewati TPS itu, saya berpapasan dengan seorang wanita berambut sampai lehernya. Ia memakai topi bewarna merah. Dengan baju dinasnya berwana kuning, menyambung antara atas dan bawah. Seperti baju para montir, Cuma yang dia kenakan adalah khusus untuk pekerjaannya.

Beliau menuju arah berlawanan dengan saya. Sambil mendorong benda yang biasanya para pekerja di galian pasir dan angkut batu gunakan. Bedanya isi dorongan beliau adalah alat kerjanya berupa sapu dan skop.

Setelah berpapasan, kira-kira 5 langkah dengan beliau. Dalam diri ada suara-suara membesarkan asma ilahi. Ada rasa semangat, karena terdengar suara didalam, ”Tidak ada alasan untuk menyerah dalam menjalani kehidupan, selama engkau terus berikhtiar, maka akan Allah bukakan jalan kepadamu”. Itu juga, mengingatkan kembali pengalan hadits yang makananya ”Gerakkanlah tanganmu, niscaya Allah turunkan rezeki untukmu”.

Sungguh kesan lebih mendalam lagi, ada rasa berkecamuk serta menggelorakan semangat dalam dada, karena dishubuh hari yang beberapa insan masih dalam selimut tebalnya. Wanita itu sudah memulai melakukan aktivitasnya. Usaha dan ikhtiar memuliakan diri sebagai hamba dengan  bekerja.

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung” [QS 62: 10]

Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Engkau telah mentakdirkan hamba bertemu dengan wanita itu. Sehingga semakin menambah semangat dan gairah hamba untuk terus berkarya, bekerja, dan berusaha. Guna memantaskan diri menjadi insan mulia nan sempurna, karena kesempurnaan-Mu. Ya rabb, jadikan kami sebagai wakil dan perantaraan mu bagi ciptaanMu di muka bumi ini. Amin…

-Rahmadsyah-
]]>
<![CDATA[Pengingat Adzan [download]]]>Sun, 13 Feb 2011 08:25:55 GMThttp://komara.weebly.com/moslem/pengingat-adzan-downloadHaree genneehh gak inget waktu shalat..?!?!?! Please dong ah..!

Download disini sofware pengingat waktu shalat untuk komputermu..

]]>
<![CDATA[My 1st Ramadhan]]>Sun, 13 Feb 2011 08:17:59 GMThttp://komara.weebly.com/moslem/my-1st-ramadhanPicture
Pertama kali aku melakukan puasa dibulan Ramadhan adalah dua tahun lalu. – kulakukan 6 bulan sebelum aku memeluk agama Islam. Aku sedang studi di sebuah universiatas di London, tepatnya pada semester terakhir . Tentu saja aku tidak bilang pada teman-teman  karena aku  khawatir mereka aku mengecap  aku gila. Ini betul betul sesuatu yang sangat pribadi dan pengalaman yang sangat khusus untuk pribadiku yang telah memberiku sebuah kekuatan, ketenangan dan kedamaian dalam hidupku

Puasa yang kedua betul-betul  berbeda,  kali ini betul betul sangat fenomenal dan  mengagumkan. Ramadhan tahun  ini aku menjadi bagian dari sebuah komunitas Muslim lokal, aku  membantu dan bekerja sama dengan Muslim lainnya yang datang dari berbagai latar  belakang dan negara. Walaupun Ramadhan kali ini membuatku sedikit kacau dan melelahkan, tapi dibalik itu  aku betul-betul menikmati karena aku dikelilingi oleh orang-orang yang juga memiliki pengalaman yang sama seperti aku.

Pada minggu pertama bulan Ramadhan aku tinggal bersama teman Muslim  yang betul-betul sangat  religius, namanya Zahida. Yaa…bangun ditengah malam untuk makan sahur bersama…, sungguh luar biasa indahnya. Hari-hari kami  menikmati  lagu-lagu Nasheed bersama dan mendengarkan Radio Ramadhan, diskusi tentang agama, lalu disiang hari kami masak bersama menyediakan berbagai macam makanan untuk berbuka puasa.

Subuh yang penuh daya magis.

Ada sesuatu yang sangat magis dibulan Ramadhan ini, saat kita bisa menyaksikan semburat jingga  horizon muncul menjelang subuh,  suasananya begitu  hening, tenang, dan damai .., lalu rasa damai itupun  menyelusup ke rongga dadaku hingga membuat diri ini begitu tranquil dan rasa damai menyelimut relung hatiku. Sungguh selama bulan Ramadhan ini kurasakan ada magis yang begitu kuat dan sepertinya keimanan kita menjadi lebih kuat dibanding hari hari biasa. Untukku … menjauhkan diri dari minum dan makan teramat kecil harganya, tak ada artinya  dibanding dengan rakhmat dan barokahnya bulan ini.

Ada lagi nilai tambah yang kudapat bahwa selama bulan Ramadhan pertama (yang resmi) aku sangat menyukai sikap kerja sama dan  rasa ukhuwah  antar komunitas Muslim. Aku selalu  diundang untuk berbuka puasa  oleh keluarga yang berbeda-beda dan dirumah yang berbeda pula disetiap akhir pekan. Rasa ukhuwah dan kepedulian yang begitu melimpah membuat aku dan kita begitu sangat, sangat bahagianya, cuma  repotnya aku terpaksa harus makan lebih di bulan Ramadhan ini dibanding hari hari biasa.

Kopi Conundum.

Problem yang aku  miliki selama bulan Ramadhan adalah kopi conundum yang harus kuminum setiap saat sahur. Jika aku minum kopi pada waktu sahur maka aku tidak akan bisa tidur usai sholat subuh – tapi bila aku tidak meminumnya  maka aku  akan menderita ‘ caffeine sindrom’ hingga saatnya berbuka. Ini adalah suatu contoh bagaimana puasa melawan kelemahan dan nafsu kita dan berupaya  untuk mengatasinya.  Hal ini telah membuat kita bersyukur betapa beruntungnya kita bisa makan dan minum cukup banyak disaat sahur untuk puasa kita di esok hari.

Hari Raya Eid

Hari Raya Eidulfitri jatuh tepat dimusim dingin yang indah dimana matahari bersinar dengan teriknya dan langit begitu biru dan bening. Aku masuk ke palataran masjid ‘Central Mosque’ London dengan senyum yang lebar diwajahku sambil ku-ucapkan  ‘Selamat Hari Raya’ (Eid Mubarak’) kepada setiap orang yan kulewati baik yang kukenal atau pun tidak. Hiruk pikuk mobil dijalanan  begitu riuhnya dan nampak sedikit kacau dan kerepotan mencari tempat parkir.

Usai sholat Eid ..siang itu aku diundang oleh temanku Fozia kerumahnya untuk merayakan hari Eidul Fitri yang aku fikir kacau dan teramat ramai. Kacau karena begitu besarnya keluarga Fozia. Aku tidak terbiasa berkumpul disuatu rumah dengan keluarga semassive itu. Semua datang dihari itu  bersama semua anak-anaknya serta sanak famili. Aku  berupaya keras untuk menyesuaikan diri dengan mereka dan aku berharap tidak mengganggu acara kekeluargaan mereka.

Alhamdulllah  aku betul-betul beruntung bisa menikmati hari Raya bersama dengan keluarga Muslim hari itu. Karena aku berkulit putih dan muallaf (revert) ah.., aku malah mendapat perhatian banyak dari mereka. Kehangatan dan pengakuan mereka layaknya seperti anggota keluarga mereka yang begitu ikhlas, sangat kurasakan… membuat aku begitu terharu.  Sungguh sangat kontradiksi  dibanding  tahun-tahun sebelumnya dimana aku tidak memiliki kenalan atau teman satupun.., dan aku tersenyum sendiri saat aku mengenang Hari Raya Eid pertama, aku cuma merayakan sendirian, aku tak tahu hendak berbuat apa dan mau kemana, lalu memutuskan untuk beli Pizza dan dibawa pulang…ya kumakan sendiri, hehe…

Aku betul- betul menanti bulan Ramdhan ini.., dari pengalaman masa lalu, kini aku bisa mengira ngira dan berharap apa yang bakalan terjadi  dan tentunya aku berharap bisa lebih memperdalam pemahamanku tentang Islam dan meningkatkan keimananku dibulan Ramadhan ini yang aku anggap sangat  spesial dan lebih baik dibanding Ramadhan tahun tahun yang lalu, insya Allah.

Oleh Rebecca Johnson, di sebuah milist
]]>
<![CDATA[Keistimewaan & Puasa Bulan Rajab]]>Sun, 13 Feb 2011 08:14:39 GMThttp://komara.weebly.com/moslem/keistimewaan-puasa-bulan-rajabBulan Rajab adalah bulannya  Allah. Mari kita simak ada apa di balik bulan Rajab  itu. Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW telah bersabda,  ”Ketahuilah bahwa bulan Rajab itu adalah bulan ALLAH, maka:
  1. Barang siapa yang berpuasa satu hari dalam bulan ini dengan  ikhlas,  maka pasti  ia mendapat keridhaan yang besar dari ALLAH  SWT;
  2. Barang siapa berpuasa pada tgl 27 Rajab 1427/Isra Mi’raj  ( 10 Juli 2010 )akan mendapat pahala seperti 5 tahun  berpuasa;
  3. Barang siapa yang berpuasa dua hari di bulan Rajab akan mendapat kemuliaan di sisi ALLAH SWT;
  4. Barang siapa yang  berpuasa tiga hari yaitu padatgl 1, 2, dan 3  Rajab ( 14 , 15, 16 Juni 2010 )maka ALLAH akan memberikan pahala seperti  900 tahun berpuasa dan menyelamatkannya dari bahaya dunia, dan siksa akhirat;
  5. Barang siapa berpuasa lima hari dalam bulan ini, insyaallah permintaannya akan dikabulkan;
  6. Barang siapa berpuasa  tujuh hari dalam bulan ini, maka ditutupkan tujuh pintu neraka  Jahanam dan barang siapa berpuasa delapan hari maka akan dibukakan delapan pintu syurga;
  7. Barang siapa berpuasa lima belas hari dalam  bulan ini, maka ALLAH akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu  dan menggantikan kesemua kejahatannya dengan kebaikan, dan barang  siapa yang menambah (hari-hari puasa) maka ALLAH akan menambahkan  pahalanya.”
Sabda Rasulullah SAW lagi : “Pada malam Mi’raj,  saya melihat sebuah sungai yang airnya lebih manis dari madu, lebih  sejuk dari air batu dan lebih harum dari minyak wangi, lalu saya  bertanya pada Jibril a.s.: “Wahai Jibril untuk siapakan sungai ini ?” Maka berkata Jibrilb a.s.: “Ya Muhammad sungai ini adalah untuk  orang yang membaca salawat untuk engkau dibulan Rajab  ini”.

Dalam sebuah riwayat Tsauban bercerita : “Ketika kami  berjalan bersama-sama Rasulullah SAW ke sebuah kubur, lalu Rasulullah  berhenti dan beliau menangis dengan amat sedih, kemudian beliau berdoa kepada ALLAH SWT. Lalu saya bertanya kepada beliau:”Ya  Rasulullah mengapakah engkau menangis?” Lalu beliau bersabda  :”Wahai Tsauban, mereka itu sedang disiksa dalam kubur nya, dan saya  berdoa kepada ALLAH, lalu ALLAH meringankan siksa   atas  mereka”.

Sabda beliau lagi: “Wahai Tsauban, kalaulah sekiranya  mereka ini mau berpuasa satu hari dan beribadah satu malam saja di  bulan Rajab niscaya mereka tidak akan disiksa di dalam  kubur.”

Tsauban bertanya: “Ya Rasulullah,apakah hanya berpuasa  satu hari dan beribadah satu malam dalam bulan Rajab sudah dapat  mengelakkan dari siksa kubur?”

Sabda beliau: “Wahai Tsauban, demi  ALLAH Zat yang telah mengutus saya sebagai nabi, tiada seorang muslim  lelaki dan perempuan yang berpuasa satu hari dan mengerjakan sholat  malam sekali dalam bulan  Rajab dengan niat karena ALLAH, kecuali  ALLAH mencatatkan baginya seperti berpuasa satu tahun dan mengerjakan  sholat malam satu tahun.”

Sabda beliau lagi: “Sesungguhnya Rajab  adalah bulan ALLAH, Sya’ban Adalah bulan aku dan bulan Ramadhan  adalah bulan umatku”. “Semua manusia akan berada dalam keadaan lapar  pada hari kiamat, kecuali para nabi,keluarga nabi dan orang orang  yang berpuasa pada bulan Rajab, Sya’ban dan bulan  Ramadhan. Maka sesungguhnya mereka kenyang, serta tidak akan  merasa lapar dan haus bagi mereka.”

Selamat beribadah..

sumber milis [sekolah-kehidupan]
]]>
<![CDATA[Why do we read Quran, even if we can’t understand a single Arabic word?]]>Sun, 13 Feb 2011 08:10:50 GMThttp://komara.weebly.com/moslem/why-do-we-read-quran-even-if-we-cant-understand-a-single-arabic-wordPicture
Mengapa membaca al Qur’an ketika kita tak mengerti artinya? Alkisah, hiduplah seorang muslim tua bersama seorang cucunya di sebuah pegunungan di bagian timur Kentucky, Amerika. Sang kakek biasa membaca Qur’an selepas sholat shubuh setiap hari. Sang cucu berusaha meniru setiap tingkah laku kakeknya.

Suatu hari, ia bertanya: “Kek! Aku berusaha membaca Qur’an seperti dirimu tetapi aku tidak mengerti isinya. Jikapun ada sedikit yang kupahami, ia akan terlupakan setiap kali aku menutup kitab itu. Lalu, apa gunanya aku membacanya?”

Dengan perlahan sang kakek membalikkan badan dan berhenti dari memasukkan batu bara ke dalam tungku pemasak. Ia menjawab: “Ambillah keranjang ini, bawalah ke sungai di bawah sana dan bawakan untukku sekeranjang air!”

Sang cucu membawa keranjang kotor hitam penuh jelaga batu bara tersebut ke sungai dan mengambil air. Namun air itu telah habis menetes sebelum sampai ke rumah. Sang kakek tertawa dan meminta sang cucu agar mencobanya sekali lagi: “Mungkin engkau harus lebih cepat membawa airnya kemari.”

Sang cucu berusaha berlari, namun tetap saja air itu lebih cepat keluar dari keranjang sebelum sampai ke rumah. Dengan terengah-engah ia pun mengatakan kepada sang kakek bahwa tidak mungkin mengambil air dengan keranjang. Sebagai gantinya ia akan mengambil air dengan ember.

“Aku tidak perlu satu ember air, yang kuinginkan adalah sekeranjang air!” jawab sang kakek. “Kau saja yang kurang berusaha lebih keras,” timpal sang kakek sambil menyuruhnya mengambil air sekali lagi. Sang kakek pun pergi ke luar rumah untuk melihat usaha sang cucu.

Kali ini sang cucu sangat yakin bahwa tidak mungkin membawa air menggunakan keranjang. Namun ia berusaha memperlihatkan kepada sang kakek bahwa secepat apapun ia berlari, air itu akan habis keluar dari keranjang sebelum ia sampai ke rumah. Kejadian yang sama berulang. Sang cucu sampai kepada kakeknya dengan keranjang kosong. “Lihatlah Kek! Tidak ada gunanya membawa air dengan keranjang.” katanya.

“Jadi, kau pikir tidak ada gunanya?”, sang kakek balik bertanya. “Lihatlah keranjang itu!” pinta sang kakek.

Ketika sang cucu memperhatikan keranjang itu sadarlah ia bahwa kini keranjang hitam itu telah bersih dari jelaga, baik bagian luar maupun dalamnya, dan terlihat seperti keranjang baru.

“Cucuku, demikianlah yang terjadi ketika engkau membaca al Qur’an. Engkau mungkin tidak mengerti atau tidak bisa mengingat apa yang engkau baca darinya. Namun ketika engkau membacanya, engkau akan dibersihkan dan mengalami perubahan, luar maupun dalam. Itulah kekuasaan dan nikmat Allah kepada kita!”

Subhanallah…
sumber alhabib
]]>
<![CDATA[Air mata Rasulallah]]>Sun, 13 Feb 2011 07:59:47 GMThttp://komara.weebly.com/moslem/air-mata-rasulallahTiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya.

Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam”, kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?”
“Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.

“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut,” kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.

]]>